
Pertemuan tingkat menteri kedua dari Mekanisme Dialog "2+2" Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Tiongkok-Indonesia digelar pada tanggal 21 Agustus kemarin di Jakarta. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Pertahanan Dong Jun bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memimpin pertemuan tersebut. Kedua pihak melakukan komunikasi strategis yang mendalam dan mencapai serangkaian kesepakatan penting.
Wang Yi menyatakan bahwa mekanisme "2+2"Tiongkok-Indonesia adalah mekanisme "2+2" tingkat menteri pertama yang didirikan Tiongkok di dunia, yang membangun platform baru bagi komunikasi strategis Tiongkok-Indonesia. Pertemuan pertama telah secara efektif mendorong kerja sama di bidang politik, keamanan, dan pertahanan, serta bersama-sama menjaga kepentingan sah kedua negara. Dalam lebih dari satu tahun terakhir, situasi internasional telah mengalami banyak perubahan besar, perubahan besar seabad terus berkembang, dan tantangan internasional bermunculan tanpa henti. Tiongkok dan Indonesia, sebagai negara berkembang besar dan anggota penting dari Selatan Global, meningkatkan solidaritas dan kerja sama secara tepat waktu, yang maknanya jauh melampaui lingkup bilateral dan akan memainkan peran perintis dan teladan di kawasan dan global. Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Indonesia untuk mengimplementasikan konsensus strategis yang telah dicapai oleh kedua kepala negara, bersama-sama memperkuat fondasi kerja sama politik dan keamanan, mendorong pembangunan komunitas dengan masa depan bersama ke tingkat yang lebih tinggi, lebih baik memberikan manfaat bagi rakyat kedua negara, dan memainkan peran yang lebih besar dalam mempromosikan stabilitas dan kemakmuran kawasan dan dunia.
Wang Yi mengatakan bahwa dunia saat ini berada di persimpangan jalan antara persatuan atau perpecahan, kerja sama atau konfrontasi. Lebih dari 70 tahun yang lalu, Tiongkok dan Indonesia bersama-sama memberikan kontribusi bersejarah bagi kesuksesan Konferensi Bandung, yang mendorong solidaritas dan kerja sama Asia-Afrika-Amerika Latin. Di bawah kondisi zaman yang baru, Tiongkok dan Indonesia harus terus menjunjung tinggi Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai dan Semangat Bandung, menggalang kekuatan negara-negara berkembang, dan bersama-sama mendorong kerja sama Selatan Global. Tiongkok bersedia memperkuat koordinasi strategis dengan Indonesia di platform multilateral seperti PBB, APEC, dan BRICS, mengadvokasi multipolarisasi dunia yang setara dan teratur, serta globalisasi ekonomi yang inklusif dan menguntungkan semua, serta mendorong pembangunan sistem tata kelola global yang lebih adil dan masuk akal.
Dong Jun menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, di bawah arahan strategis kedua kepala negara, kerja sama pertahanan kedua pihak telah ditingkatkan kualitas dan efisiensinya, memberikan contoh bagi kerja sama pertahanan model baru antara Selatan Global dan negara berkembang besar. Saat ini, perubahan dunia telah memasuki siklus baru eskalasi krisis global yang menyeluruh, dan kawasan menghadapi berbagai tantangan keamanan. Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Indonesia, dengan teguh memandang kerja sama pembangunan pertahanan dan angkatan bersenjata dari sudut pandang strategis, terus menggali potensi kerja sama pertahanan, menciptakan lebih banyak titik terang kerja sama, membangun pagar keamanan yang kokoh bagi pembangunan masing-masing, memainkan peran sebagai kekuatan utama bagi stabilitas kawasan, dan menyuntikkan lebih banyak stabilitas, kepastian, dan konstruktivitas ke dalam dunia yang penuh gejolak dan campur aduk.

Kedua pihak melakukan pertukaran pandangan yang mendalam mengenai isu-isu keamanan internasional dan kawasan yang menjadi perhatian bersama, dan sepakat bahwa perlu mengoordinasikan dua hal besar yaitu pembangunan dan keamanan, serta bersatu menghadapi berbagai tantangan eksternal. Kedua pihak akan membangun kesadaran mitra keamanan, saling mendukung kepentingan inti masing-masing, bersama-sama menentang campur tangan asing, menggenggam nasib negara dan bangsa di tangan sendiri, memberikan jaminan yang lebih baik bagi proses modernisasi kedua negara, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perdamaian dan pembangunan dunia.
Kedua pihak memberikan penilaian tinggi terhadap peran mekanisme "2+2", dan akan terus mengandalkan platform komunikasi strategis penting ini untuk memperdalam solidaritas dan kerja sama, serta mendorong kemajuan positif dalam kerja sama politik, keamanan, dan pertahanan.
Kedua pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama penegakan hukum dan keamanan dalam pemberantasan kejahatan lintas negara, pengejaran dan penyitaan aset, serta mendukung dan berpartisipasi dalam pemberantasan penipuan telekomunikasi dan internet internasional. Mengimplementasikan dokumen kerja sama keamanan maritim, dan menjaga keamanan serta kelancaran jalur pelayaran utama.
Kedua pihak akan memperdalam kerja sama pertahanan, mendorong pengembangan normalisasi dan mekanisme kerja sama praktis di bidang peralatan dan teknologi, latihan bersama dan pelatihan bersama, pelatihan personel, keamanan maritim, serta terus meningkatkan kualitas dan efektivitas.
Kedua pihak bersama-sama mengadvokasi model keamanan Asia yang berbagi nasib, saling menghormati perbedaan, dan mengutamakan dialog dan konsultasi, serta secara efektif menjaga arus utama kerja sama kawasan serta perdamaian dan stabilitas Laut Tiongkok Selatan.
Kedua pihak bersedia melakukan lebih banyak kerja sama di bawah kerangka Empat Inisiatif Global, dan bersama-sama menjaga sistem perdagangan multilateral. Memperkuat koordinasi mengenai isu Timur Tengah, dan secara aktif mendorong perdamaian dan penghentian perang.
